Lentera Itu Tak Pernah Padam, "Dari Preman Menjadi Pelayan Masyarakat"

MULTIINFORMASI.ID || Aceh Tamiang  -

Langit di Desa Tanjung Seumantoh tampak lebih kelabu dari biasanya pada Selasa, 31 Maret 2026. Isak tangis terdengar saat berita duka menyelimuti tanah Aceh Tamiang. Yusrizal bin Sujiman (54), seorang kepala desa yang lebih dikenal sebagai Godek, telah kembali ke Rahmatullah setelah berjuang hingga nafas terakhirnya untuk satu tujuan : memastikan kesejahteraan orang-orang yang dicintainya.

Perjuangan Terakhir di Tengah Banjir Hidrometeorologi

Hingga saat-saat sebelum jatuh sakit dan dirawat di Rumah Sakit Umum Langsa, pikiran Yusrizal tak pernah lepas dari nasib warga Kampung Tanjung Seumantoh yang terdampak bencana banjir. Almarhum merasakan beban moral yang sangat berat ketika mengetahui masih ada nama-nama warga yang belum terdaftar dalam daftar penerima dana stimulus By Name By Address (BNBA).

Bagi Yusrizal, bukan hanya administrasi yang diperjuangkannya, tetapi juga keadilan. Frustrasinya terlihat dari bahasa tubuhnya yang gelisah, ia merasa kinerjanya belum sempurna jika masih ada satu warga pun yang tertinggal dari bantuan pemerintah. Ketulusan ini membuktikan bahwa posisinya sebagai Datok Penghulu (Kepala Desa) untuk periode 2021-2027 adalah bentuk pengabdian total, bukan sekadar status formal.

Transformasi 180 Derajat : Dari "Preman" Menjadi Pelayan

Kisah hidup Yusrizal adalah narasi perubahan jiwa yang luar biasa. Publik mengetahui sejarah hidupnya yang keras, tetapi sejak diangkat menjadi Datok, ia memilih jalan transformasi. Sosok yang dulunya dikenal sebagai "preman" berubah 180 derajat menjadi pemimpin yang bijaksana dan penyayang.

Ia tak ragu menggunakan uang pribadinya jika dana desa tidak mencukupi untuk membiayai kegiatan desa. Tak ada hasil jerih payah warga tanpa upah yang layak; jika anggaran rendah, Yusrizal adalah orang pertama yang menutupi kekurangan tersebut dengan kekayaannya sendiri.

Dicintai oleh Kaum Muda, Dihormati oleh Para Sesepuh

Masa jabatannya telah mengasah hidupnya hingga menjadi hampir sempurna sebagai manusia sosial. Ia berhasil menjembatani dua generasi.

Bagi kaum muda : Dia adalah panutan, sosok kakak laki-laki yang bisa merangkul dan memberi arahan, sehingga dia sangat dihormati.

Untuk sosok yang lebih tua : Ia adalah seorang anak sekaligus pemimpin yang tahu bagaimana menghormati tradisi dan mendengarkan nasihat, itulah sebabnya ia sangat dicintai.

Warisan yang Tak Pernah Pudar

Yusrizal telah pergi, tetapi ia kembali dengan kepala tegak. Ia meninggalkan warisan tentang bagaimana kekuasaan seharusnya digunakan: untuk membela yang lemah dan mengutamakan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi.

Bagi keluarga yang berduka, kepergian almarhum mungkin meninggalkan kekosongan yang dalam, tetapi kebanggaan akan nama baik dan pengabdiannya akan menjadi penghibur abadi. Yusrizal bukan hanya kepala desa; dia adalah pahlawan bagi Tanjung Seumantoh, yang membuktikan bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk menjadi manusia terbaik sebelum kematian datang.

Selamat tinggal, Kakek. Perjuanganmu telah berakhir, tetapi kebaikanmu akan terus mengalir di setiap sudut desa yang kau jaga. (DJ)
SPONSOR
Lebih baru Lebih lama
SPONSOR