MULTI INFORMASI

Satgas PRR Pusat Pulihkan Ribuan Hektar Tambak Pulihkan Perikanan Budidaya Aceh

MULTIINFORMASI.ID || Aceh Tamiang -  

Bencana boleh menghentikan produksi, tetapi tidak boleh menghentikan harapan masyarakat. Semangat itulah yang dibawa Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (Satgas PRR) Pusat, yang dipimpin Katim Korwil Aceh-2, Brigjen TNI (Mar) Dr. Guslin, S.H., M.H., dalam mempercepat pemulihan sektor perikanan budidaya di Aceh, pabu, 23 September 2026. 

Bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang, pembudidaya, penyuluh, dan para pemangku kepentingan, Satgas PRR Pusat mendorong tambak masyarakat yang terdampak bencana untuk kembali berproduksi. 

Sebanyak 100 hektare tambak masyarakat di empat kecamatan di Kabupaten Aceh Tamiang mulai dioperasionalkan kembali, ditandai secara simbolis dengan penebaran benih udang di tambak masyarakat Desa Alur Nunang, Kecamatan Banda Mulia, kata Kepala Dinas Pangan, Kelautan dan Perikanan Aceh Tamiang, drh. Asma'i. 

Langkah tersebut bukan sekadar menghidupkan kembali lahan tambak. Lebih dari itu, ini adalah upaya menghidupkan kembali mata pencaharian, aktivitas ekonomi, dan optimisme masyarakat pesisir. 

“Tambak yang kembali berproduksi berarti ekonomi masyarakat mulai bergerak kembali. Karena itu, pemulihan tidak boleh berhenti pada pembangunan fisik, tetapi harus memastikan masyarakat kembali mampu berproduksi.” sebut Asma'i. 

100 Hektare Kembali Mulai Bergerak 

Dijelaskannya, bahwa operasionalisasi 100 hektare tambak di Aceh Tamiang menjadi bagian dari target pemulihan kawasan terdampak bencana yang mencapai 584,89 hektare pada tahun ini. 

Untuk mendorong produksi kembali berjalan, KKP memberikan dukungan input produksi berupa 3,5 juta ekor benih udang vaname dan 32,5 ton pakan kepada masyarakat pembudidaya. 

Bantuan tersebut dirancang sebagai stimulus awal agar pembudidaya tidak harus menunggu terlalu lama untuk kembali masuk ke siklus produksi. 

Dengan demikian, pendekatan pemulihan yang dilakukan tidak berhenti pada “tambak sudah diperbaiki”, tetapi bergerak lebih jauh menuju “tambak sudah kembali menghasilkan.” tambahnya. 

1.372 Hektare Tambak Aceh Sudah Dipulihkan 

Percepatan pemulihan juga terus dilakukan di berbagai wilayah terdampak di Provinsi Aceh. Hingga saat ini, KKP telah memulihkan 1.372 hektare tambak terdampak bencana di Provinsi Aceh. 

Capaian tersebut menjadi bagian dari kerja bersama pemerintah pusat, pemerintah daerah, pembudidaya, penyuluh, serta pemangku kepentingan lainnya dalam mengembalikan produktivitas kawasan perikanan budidaya. 

Bagi Satgas PRR Pusat, angka tersebut bukan sekadar capaian luasan. Di balik setiap hektare tambak yang kembali beroperasi terdapat keluarga pembudidaya yang kembali bekerja, rantai pasok yang kembali bergerak, kebutuhan sarana produksi yang kembali tumbuh, dan aktivitas ekonomi lokal yang kembali hidup. 

Dari Pemulihan Fisik Menuju Pemulihan Ekonomi 

Masih kata Asma'i, pendekatan pemulihan pascabencana di sektor perikanan diarahkan untuk memastikan bahwa rehabilitasi memberikan dampak nyata terhadap kehidupan masyarakat. 

Karena itu, dukungan pemerintah tidak berhenti pada rehabilitasi kawasan. Input produksi berupa benih dan pakan diberikan untuk mempercepat masyarakat memasuki kembali proses produksi. 

“Kita ingin masyarakat tidak hanya melihat tambaknya pulih, tetapi merasakan bahwa kehidupan ekonominya juga mulai pulih. Tambak harus kembali menjadi sumber penghidupan masyarakat.” 

Sinergi pusat dan daerah menjadi kunci agar proses tersebut berlangsung cepat, tepat, dan berkelanjutan. 

Penyaluran dukungan selanjutnya akan dilakukan secara bertahap ke kawasan terdampak lainnya berdasarkan hasil verifikasi lapangan dan tingkat kerusakan, sehingga proses rehabilitasi dapat dilakukan secara menyeluruh. 

Pesan Utama Satgas PRR 

Kehadiran Satgas PRR Pusat di Aceh membawa satu pesan yang jelas:
Pascabencana bukan akhir dari aktivitas ekonomi masyarakat. Pascabencana adalah momentum untuk membangun kembali kawasan perikanan agar lebih produktif, lebih tangguh, dan lebih siap menghadapi risiko di masa depan, harapnya. 

Melalui percepatan rehabilitasi, dukungan produksi, dan sinergi lintas pihak, pemerintah mendorong kawasan budidaya terdampak untuk kembali menjadi pusat kegiatan ekonomi masyarakat. 

Tambak kembali hidup. Pembudidaya kembali bekerja. Ekonomi masyarakat kembali bergerak. 

Inilah semangat pemulihan perikanan budidaya Aceh menuju kawasan yang kembali produktif dan tangguh, sekaligus mendukung ketahanan pangan nasional dan visi Ekonomi Biru menuju Indonesia Emas, ungkap Asma'i. (DJ)
SPONSOR
Lebih baru Lebih lama
MULTI INFORMASI
SPONSOR