MULTI INFORMASI

Mahasiswa KKN-PPM UGM di Raja Ampat Gelar Festival Sorai Waisai Tandai Puncak pelaksanaan TDPT-PPP

Waisai-  Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata–Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Periode II Tahun 2026 Unit Sorai Waisai menggelar Festival Sorai Waisai sebagai bagian dari rangkaian kegiatan sekaligus menandai puncak pelaksanaan pengabdian mereka di Kabupaten Kepulauan Raja Ampat.

Kegiatan tersebut berlangsung di Distrik Kota Waisai, Kabupaten Kepulauan Raja Ampat, Papua Barat Daya, Sabtu (1/8/2026).
Festival Sorai Waisai menjadi momentum yang mempertemukan mahasiswa KKN-PPM UGM dengan masyarakat setempat setelah menjalani pengabdian selama kurang lebih satu bulan di wilayah Distrik Kota Waisai.

Sore itu, Pantai Waisai Torang Cinta (WTC) tampak dipadati masyarakat. Lebih dari 500 orang dari berbagai latar belakang hadir dan mengambil bagian dalam kegiatan tersebut. Mereka terdiri dari ibu-ibu PKK, aparat keamanan, pelajar, pedagang, masyarakat setempat hingga mahasiswa UGM yang selama sebulan penuh menjalankan program pengabdian.

Menghadap langsung ke laut biru Raja Ampat, ratusan peserta berdiri bersama di bibir pantai. Mereka kemudian bersiap melakukan kegiatan yang sederhana, namun memiliki makna kebersamaan yang kuat, yakni berlari bersama.
Suasana pantai berubah menjadi penuh semangat ketika peserta mulai bergerak. Kegiatan lari bersama tidak hanya menjadi bagian dari rangkaian Festival Sorai Waisai, tetapi juga menjadi simbol kebersamaan antara mahasiswa KKN-PPM UGM dengan masyarakat Raja Ampat.

Kehadiran ratusan masyarakat menunjukkan antusiasme yang tinggi terhadap kegiatan yang digelar mahasiswa. Festival tersebut menjadi ruang interaksi dan silaturahmi antara mahasiswa, masyarakat, pemerintah, aparat keamanan, pelajar serta berbagai unsur lainnya.

Koordinator tim KKN-PPM UGM Sorai Waisai Ihza Wijaya, menjelaskan, Antusiasme peserta melampaui semua perkiraan, Peserta bukan hanya dari kalangan muda ada lansia yang tetap semangat menyelesaikan jalur 3 km, ada anak-anak yang berlari sambil tertawa, ada aparat berseragam yang berlomba-lomba mendahului satu sama lain.

 "Setiap peserta mendapat kupon hadiah yang diundi setelah garis finis hadiahnya pun bukan kaleng-kaleng: perabotan rumah tangga, sembako, magic com, hingga kipas angin. Mini games tambahan setelah fun run melengkapi kemeriahan pagi itu dengan hadiah-hadiah menarik bagi para pemenang," Ujar  Ihza melalui tertulis diterima  wartawan  usai festival Selasa (10/8/2026).

Ia mengutarakan, Festival Sorai Waisai khususnya fun run ini, adalah cara kami berterima kasih kepada masyarakat Raja Ampat atas penerimaan yang luar biasa selama kami mengabdi kepulauan Raja Ampat.

Mahasiswa UGM itu bilang, Kami ingin meninggalkan kenangan indah yang kami ciptakan bersama bukan hanya program-program serius, tetapi juga tawa dan keringat yang kami tumpahkan bersama di pagi yang cerah ini.

Sementara itu, Koordinator Festival Sorai Waisai Nurmala, Menegaskan Festival Sorai Waisai memang dirancang sebagai perayaan perayaan atas perjalanan pengabdian yang penuh warna, atas kepercayaan yang diberikan masyarakat Raja Ampat kepada para mahasiswa, dan atas persahabatan yang terjalin di antara keduanya. 

Para mahasiswa KKN itu menyampaikan, Pantai WTC menjadi panggung yang paling tepat: di tepi laut yang menjadi ikon keindahan Raja Ampat, mahasiswa dan masyarakat menutup satu babak pengabdian dengan cara yang paling manusiawi dengan bergerak bersama, bersukacita bersama, dan merayakan kebersamaan yang singkat namun bermakna.

Katanya, Sebelum fun run dimulai, acara dibuka dengan Pelaporan Pelaksanaan KKN oleh Koordinator Mahasiswa Ihza Muhammad Wijaya kepada Asisten I SETDA Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat,

" Turut hadir  Dr. Yosep H. W. Mirino, M.Ec.Dev., yang mewakili Bupati Raja Ampat, Kepala Distrik Waisai, Kepala Dinas Lingkungan Hidup, serta perwakilan Kodim 1805 Raja Ampat, Polres Raja Ampat, Yonif 863/BB,  berbagai instansi lainnya,  daftar tamu yang mencerminkan betapa program KKN-PPM UGM di Waisai telah menyentuh berbagai lapisan kehidupan masyarakat," jelasnya Nurmala.

Mahasiswa dari luar daerah itu menilai, sedikitnya Tiga ratus dua puluh peserta yang berlari di Pantai WTC  dan melakukan kegiatan berlomba melalui Festival Sorai Waisai bukan sekedar angka melainkan  representasi komunitas yang memilih untuk merayakan merayakan kesehatan, merayakan kebersamaan, dan merayakan satu bulan pengabdian yang telah menghasilkan perubahan nyata di Distrik Kota Waisai," tuturnya.

" Festival Sorai Waisai bukan perpisahan ia adalah titik awal dari hubungan yang semoga terus berlanjut antara Universitas Gadjah Mada dan masyarakat Raja Ampat yang luar biasa," ungkapnya Nurmala.

Apresiasi juga datang dari Bupati Raja Ampat  Orideko Iriano Burdam,  yang mewakili  Asisten I Setda Raja Ampat, Yosep Hadi Wijayanto, M.Ec.Dev,
menyampaikan Festival Sorai Waisai menjadi momentum refleksi bagi mahasiswa sebelum mengakhiri masa pengabdian. Setelah berinteraksi dan bekerja bersama masyarakat selama sebulan, kegiatan tersebut menjadi salah satu cara untuk merayakan kebersamaan yang telah terbangun," tegas bupati raja Ampat melalui asisten I.

"Kehadiran para mahasiswa di tengah-tengah masyarakat kami merupakan wujud nyata semangat Tri Dharma Perguruan Tinggi yang tidak hanya berfokus pada pendidikan dan penelitian, tetapi juga pengabdian kepada masyarakat,” kata Yosep.

Pemda Raja Ampat Papua Barat Daya bersama Forkopimda dan masyarakat mengatakan, mahasiswa KKN-PPM UGM melaksanakan berbagai program pengabdian yang diarahkan pada pemberdayaan masyarakat dan pengembangan potensi lokal. Kehadiran mereka diharapkan tidak hanya memberikan manfaat melalui program yang dijalankan, tetapi juga meninggalkan pengalaman dan hubungan baik dengan masyarakat.

Di tengah panorama laut Raja Ampat yang menjadi salah satu destinasi wisata dunia, ratusan orang berlari bersama di Pantai WTC. Tidak ada sekat antara mahasiswa dan masyarakat. Semua menyatu dalam suasana penuh kegembiraan.

Festival Sorai Waisai akhirnya bukan sekadar kegiatan penutup rangkaian pengabdian mahasiswa KKN-PPM UGM. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi gambaran bahwa pengabdian di tengah masyarakat dapat dibangun melalui kebersamaan, interaksi, dan semangat untuk saling memberi manfaat.

Bagi mahasiswa KKN-PPM UGM, Raja Ampat bukan hanya tempat menjalankan program pengabdian, tetapi juga ruang untuk belajar langsung dari masyarakat, memahami kehidupan lokal, serta membawa pulang pengalaman yang tidak ditemukan hanya di ruang-ruang perkuliahan. (Penulis Eskop Wisabla)
SPONSOR
Lebih baru Lebih lama
MULTI INFORMASI
SPONSOR